Lingkungantempat tinggal merupakan segala sesuatu yang ada disekitar kita, baik itu benda, udara dan hewan, termasuk manusia. Sebagaimana yang diungkapkan oleh H.A. Mustafa dalam Kamus Lingkungan, lingkungan tempat tinggal adalah "kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan prilakunya
Wilayahakidah karena manusia diberi amanah menjadi khalifah untuk menjaga alam. Ayat-ayat Allah yang terbentang di alam raya mengantarkan pada keimanan. Bidang syariah karena manusia diperintahkan waf'alul khair, yaitu setiap amal yang kemanfaatannya itu mencakup seluruh eksistensi yang ada di sekitar kita, termasuk lingkungan. Dari sisi
7 SIKAP TAMAK MANUSIA PUNCA KEROSAKAN. Biasanya kerosakan alam sekitar yang berpunca daripada tangan manusia, bermula daripada sikap tamak. Ingin membolot kekayaan untuk kepentingan diri sendiri semata mata dengan mengabaikan kelangsungan alam hingga menyebabkan hakisan, kepupusan, peningkatan suhu dunia, perubahan iklim dan sebagainya.
Padahalmereka adalah saudara kita. Mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi manusia jumlahnya dengan membawa bentuk permasalahan baik internal lingkungan anak . 2 biaya pendidikan di Indonesia yang relatif tidak berpihak pada kaum papa telah
Kitatidak perlu harus membuat usaha yang terlalu muluk-muluk. Cukup sederhana saja, tetapi prospeknya bagus. Caranya adalah dengan mengevaluasi lingkungan yang ada di sekeliling kita. Salah satu alat untuk mengukur semua hal Banyak cara untuk rnelihat peluang yang terjadi di sekitar kita. Selama masih ada kebutuhan dan keinginan, selama
Jakarta 28 Sya'ban 1438/25 Mei 2017 (MINA) - Anggota Dewan Kehormatan Pengurus Pusat ICMI Dr. Ir. Muslim Nasution APU menilai keberadaan hutan yang merupakan anugerah dan amanah dari Allah SWT
JFFc8. ISLAM DAN LINGKUNGAN HIDUPOleh Ustadz Abu Ihsan al-AtsariDien Islam yang kaffah ini telah melarang segala bentuk pengrusakan terhadap alam sekitar, baik pengrusakan secara langsung maupun tidak langsung. Kaum Muslimin, harus menjadi yang terdepan dalam menjaga dan melestarikan alam sekitar. Oleh karena itu, seyogyanya setiap Muslim memahami landasan-landasan pelestarian lingkungan hidup. Karena pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua umat manusia sebagai pemikul amanah untuk menghuni bumi Allâh Azza wa Jalla Subhanahu wa Ta’ala telah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena bisa membahayakan kehidupan manusia di muka bumi. Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik Allâh Azza wa Jalla dan kita hanya diamanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allâh Azza wa Jalla tetapkan. Oleh karena itu, manusia tidak boleh semena-mena mengeksplorasi alam tanpa memikirkan akibat yang Azza wa Jalla berfirman تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۗ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَItulah ayat-ayat Allah Azza wa Jalla. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar dan tiadalah Allâh berkehendak untuk menganiaya hamba-hambaNya. [Ali Imrân/3108]Allah Azza wa Jalla menciptakan alam ini bukan tanpa tujuan. Alam ini merupakan sarana bagi manusia untuk melaksanakan tugas pokok mereka yang merupakan tujuan diciptakan jin dan manusia. Alam adalah tempat beribadah hanya kepada Allâh semata. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Yaitu Orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Ali Imrân/3191]Syariat Islam sangat memperhatikan kelestarian alam, meskipun dalam jihâd fi sabîlillah. Kaum Muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan firmanNya ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. [ar-Rûm/3041]Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya, “Zaid bin Râfi’ berkata, Telah nampak kerusakan,’ maksudnya hujan tidak turun di daratan yang mengakibatkan paceklik dan di lautan yang menimpa binatang-binatangnya.”Mujâhid rahimahullah mengatakan, “Apabila orang zhâlim berkuasa lalu ia berbuat zhâlim dan kerusakan, maka Allâh Azza wa Jalla akan menahan hujan karenanya, hingga hancurlah pesawahan dan anak keturunan. Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai kerusakan.” Kemudian Mujâhid rahimahullah membacakan ayat di apakah kerusakan yang terjadi itu hanya disebabkan perbuatan manusia yang merusak lingkungan atau mengekplorasi alam semena-mena ataukah juga disebabkan kekufuran, syirik dan kemaksiatan yang mereka lakukan ? Jawabnya adalah Katsîr rahimahullah telah menjelaskan dalam tafsirnya “Makna firman Allâh yang artinya “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” yaitu kekurangan buah-buahan dan tanam-tanaman disebabkan kemaksiatan. Abul Aliyah berkata, “Barangsiapa berbuat maksiat kepada Allâh di muka bumi, berarti ia telah berbuat kerusakan padanya. Karena kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan. Oleh karena itu apabila nabi Isa turun di akhir zaman, beliau akan berhukum dengan syariat yang suci ini pada masa tersebut. Beliau akan membunuh babi, mematahkan salib dan menghapus jizyah upeti sehingga tidak ada pilihan lain kecuali masuk Islam atau diperangi. Dan di zaman itu, tatkala Allâh telah membinasakan Dajjal dan para pengikutnya serta Ya’jûj dan Ma’jûj, maka dikatakanlah kepada bumi, “Keluarkanlah berkahmu.” Maka satu buah delima bisa dimakan oleh sekelompok besar manusia dan mereka bisa berteduh di bawah naungan kulitnya. Dan susu unta mampu mencukupi sekumpulan manusia. Semua itu tidak lain disebabkan berkah penerapan syariat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Maka setiap kali keadilan ditegakkan, akan semakin banyaklah berkah dan kebaikan. Karena itulah disebutkan dalam hadits shahih, yang artinya, “Sesungguhnya apabila seorang yang jahat mati, niscaya para hamba, kota-kota, pepohonan dan binatang-binatang melata merasakan ketenangan.”[1]Salah satu bukti bahwa Islam sangat memperhatikan lingkungan alam sekitar adalah perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk menyingkirkan gangguan dari jalan yang beliau jadikan sebagai salah satu cabang keimanan, perintah beliau untuk menanam pohon walaupun esok hari kiamat. Disamping kita telah menjaga kehidupan manusia di sekitar kita. Bukankah satu pohon adalah jatah untuk dua orang ?Dalam hal ini pemerintah berhak memerintahkan rakyat untuk menanam pohon. al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya, “Bercocok tanam termasuk fardhu kifâyah. Imam penguasa berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, seperti menanam pohon.”[2]Bahkan untuk memotivasi umat beliau agar gemar menanam pohon beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌMuslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.[3]Bahkan pohon itu akan menjadi asset pahala baginya sesudah mati yang akan terus mengalirkan pahala Shallallahu alaihi wa sallam bersabda سَبْعٌ يَجْرِي لِلعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَ هُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لََهُ بَعْدَ مَوْتِهِ .Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. Tujuh itu adalah orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan untuknya sesudah ia mati.[4]Menebang pohon, menggunduli hutan, membuang limbah ke sungai, membakar areal pesawahan dan lain-lainnya sudah jelas termasuk perbuatan merusak alam yang bisa mendatangkan bencana bagi umat manusia. Banjir bandang, kabut asap, pemanasan global adalah beberapa diantara akibatnya. Namun sadarkah kita, bahwa kerusakan alam bukan hanya karena faktor-faktor riil seperti itu saja. Kekufuran, syirik dan kemaksiatan juga punya andil dalam memperparah kerusakan alam. Bukankah banjir besar yang melanda kaum Nuh Alaihissallam disebabkan kekufuran dan penolakan mereka terhadap dakwah Nabi Nuh Alaihissallam? Bukankah bumi dibalikkan atas kaum Luth sehingga yang atas menjadi bawah dan yang bawah menjadi atas disebabkan kemaksiatan yang mereka lakukan ?Sebaliknya, keimanan, ketaatan dan keadilan juga berperan bagi kebaikan dan keberkahan Qayyim rahimahullah mengatakan, “Diantara pengaruh buruk perbuatan maksiat terhadap bumi adalah banyak terjadi gempa dan longsor di muka bumi serta terhapusnya berkah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah melewati kampung kaum Tsamûd, beliau melarang mereka para sahabat melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam juga melarang mereka meminum airnya, menimba sumur-sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum. Karena maksiat kaum Tsamûd ini telah mempengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen Ahmad telah menyebutkan dalam Musnadnya, ia berkata, “Telah ditemukan dalam gudang milik Bani Umayyah sebutir gandum yang besarnya seperti sebutir kurma. Gandum itu ditemukan dalam sebuah kantung yang bertuliskan, “Biji gandum ini tumbuh pada masa keadilan ditegakkan.”Kebanyakan musibah-musibah yang Allâh Azza wa Jalla timpakan atas manusia sekarang ini disebabkan perbuatan dosa yang mereka orang tua di padang pasir telah mengabarkan kepadaku bahwa mereka pernah mendapati buah-buah yang ukurannya jauh lebih besar daripada buah-buahan yang ada sekarang.”[5]Barangkali ada yang bertanya apakah maksiat yang tidak ada sangkut pautnya dengan alam bisa juga merusak alam ? Jawabnya, ya bisa. Bukankah Hajar Aswad menghitam karena maksiat yang dilakukan oleh manusia ? Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda نَزَلَ الحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الجَنَّّةِ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ ، فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَHajar Aswad turun dari surga lebih putih warnanya daripada salju, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam.[6]Begitulah pengaruh dosa dan maksiat! Hajar Aswad yang turun dari surga dalam keadaan berwarna putih bersih lebih putih dari salju bisa menghitam karena dosa. Ini membuktikan bahwa dosa dan maksiat juga memberikan pengaruh pada perubahan yang terjadi pada alam manusia tidak segera kembali kepada agama Allâh Azza wa Jalla, kepada sunnah Nabi-Nya, maka berkah itu akan berganti menjadi musibah. Hujan yang sejatinya, Allâh turunkan untuk membawa keberkahan dimuka bumi, namun karena ulah manusia itu sendiri, hujan justru membawa berbagai bencana bagi manusia. Banjir, tanah longsor dan beragam bencana muncul saat musim hujan tiba. Bahkan di tempat-tempat yang biasanya tidak banjir sekarang menjadi langganan banjir !Tidakkah manusia mau menyadarinya? Atau manusia terlalu egois memikirkan diri sendiri tanpa mau menyadari pentingnya menjaga alam sekitar yang bakal kita wariskan kepada generasi mendatang !?Allâh Azza wa Jalla memberi manusia tanggung jawab untuk memakmurkan bumi ini, mengatur kehidupan lingkungan hidup yang baik dan tertata. Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menuntut tanggung jawab itu di akhirat karena itu, kita sebagai umat muslim seharusnya memahami arti pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Mereka punya kewajiban untuk melestarikan alam Subhanahu wa Ta’ala berfirman وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَاDan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya. [al-A’râf/756]Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut, “Firman Allâh Azza wa Jalla yang maknanya-red, Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya.’ Allâh melarang tindakan perusakan dan hal-hal yang membahayakan alam, setelah dilakukan perbaikan atasnya. Sebab apabila berbagai macam urusan sudah berjalan dengan baik lalu setelah itu terjadi perusakan, maka hal itu lebih membahayakan umat manusia. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla melarang hal itu dan memerintahkan para hamba-Nya agar beribadah, berdoa, dan tunduk serta merendahkan diri kepada-Nya.”Sesungguhnya dengan akal yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan, manusia lebihkan dari makhluk-makhluk lainnya. Kita lebih mulia dari hewan. Coba anda lihat, hewan saja memiliki kesadaran menjaga keseimbangan alam dan lingkungan hidup, lalu apakah kita selaku manusia justru menghancurkannya ? Janganlah kamu berbuat kerusakan sesudah Allâh memperbaikinya! Maka kita punya tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungan hidup demi kesejahteraan hidup manusia di bumi ini. Bukankah Allâh Azza wa Jalla telah berfirman وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍDan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. [al-Hijr/1519]Ya, semua sudah ada ukurannya, semua ada aturannya. Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan semua itu dengan sangat detail dan Katsîr rahimahullah berkata, “Selanjutnya Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa Dia yang telah menciptakan bumi, membentangnya, menjadikannya luas dan terhampar, menjadikan gunung-gunung diatasnya yang berdiri tegak, lembah-lembah, tanah dataran, pasir, dan berbagai tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang sesuai. Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu berkata tentang firman Allâh Azza wa Jalla “Segala sesuatu dengan ukuran” Mauzun artinya adalah diketahui ukurannya proporsional dan seimbang. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Qatâdah dan ulama yang lainnya. Di antara para ulama ada yang mengatakan, “maksudnya ukuran yang telah ditentukan.” Sedang Ibnu Zaid mengatakan, “Maksudnya yaitu dari setiap sesuatu yang ditimbang dan ditentukan ukurannya.”Dalam ayat lain Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang siklus hidrologi sirkulasi air yang tidak pernah berhenti yang menjadi salah satu elemen terpenting bagi kelangsungan kehidupan makhluk di muka Azza wa Jalla berfirman اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَAllah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allâh membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu Lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. [ar-Rûm/3048].Begitulah proses perubahan diciptakan untuk memelihara keberlanjutan sustainability bumi. Proses ini dikenal sebagai siklus hidrologi, mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan dan aliran air ke sungai, danau dan ini kita laksanakan dengan menjalankan syariat Allâh Azza wa Jalla di muka bumi, memakmurkannya dengan tauhid dan sunnah. Sembari terus menumbuhkan kesadaran bahwa kita tidak sendiri hidup di muka bumi. Ada makhluk-makhluk Allâh Subhanahu wa Ta’ala lainnya selain kita di sekitar juga dengan menjauhi kekafiran, syirik dan maksiat. Karena dosa dan maksiat akan mendorong manusia untuk merusak dan mengotori alam ini dengan noda-noda maksiat mereka. Mereka inilah inilah yang sebenarnya tidak memahami tujuan penciptaan alam semesta al-KarîUmdatut Tafsîr Ibnu KatsîTafsir Ibnul al-BukhâShahîh Shâlihîn, an-Nawawi.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] HR Bukhâri 6512. [2] Tafsîr al-Qurthubi III/306. [3] HR Bukhâri 6012. [4] Dishahihkan oleh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ 3602 dari Anas. [5] al-Fawâid, hlm. 65. [6] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi I/166, Ibnu Khuzaimah I/271 dan dishahihkan oleh al-Albâni dalam Silsilatul Ahâdîtsis Shahîhah 2618..
Risalah Nabi Muhammad ﷺ adalah menyempurnakan Akhlak manusia di bumi ini. Sehingga perbuatan manusia menjadi terpuji dan bertaqwa kepada Allah SWT, inilah yang disebut akhlak mulia Al Akhlak Al Karimah. Akhlak mulia adalah akhlak yang berada di atas jalur Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Kesadaran akan Akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri hablu binafsi, hingga manusia melihat atau merasakan baik atau buruknya suatu sikap yang ia perbuat. Disanalah manusia dapat membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia bisa melakukannya. Muslim yang ideal tentu adalah Muslim yang memiliki hubungan yang baik secara vertikal kepada Allah SWT yang terwujud dalam akidah dan ibadahnya yang lurus dan baik, sekaligus juga memiliki hubungan yang baik secara horisontal dengan sesama manusia yang tercermin dalam akhlaknya yang mulia. Dengan demikian, setiap perbuatan seorang muslim diwajibkan berdasar pada syariat Islam terutama di dalam pergaulan sehari-hari, baik keluarga, kerabat, tetangga, lingkungan kemasyarakatan bahkan bernegara. Manusia sebagai Khalifah di bumi[1], memiliki kewajiban untuk menjaga keseimbangan alam melestarikan bumi. Dunia yang menjadi tempat tinggal manusia beserta isinya sama-sama makhluk Allah yang selalu memuji asma-Nya. Merusak alam berarti secara tidak langsung akan merusak kehidupan manusia karena manusia sangat bergantung pada alam. Akhlak kepada alam berarti tingkah laku kita kepada lingkungan sekitar, bagaimana kita bisa menjaga apa yang ada disekitar kita baik berupa hewan, tumbuh-tumbuhan, gunung, sungai dan lain sebagainya. Bahkan secara lebih luas, Akhlak kepada alam berarti bagaimana cara kita berbuat baik kepada seluruh ciptaan Allah yang ada di alam semesta. PENGERTIAN AKHLAK Menurut Yusuf Sukriy Farhat secara etimologis bahasa, akhlak merupakan bentuk plural dari al‑khulq[u] dan al‑khuluq, yang berasal dari khalaqa – yakhluq[u] – khalqah wa khalq[an], yang berarti awjada mewujudkan/mengadakan, abda’a menciptakan. Sedangkan al‑khulq dan al‑khuluq itu sendiri berarti ath‑thab’tabiat, al‑adâh adat/ karakter.[2] وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤ “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” QS Al-Qalam [68] 4 Melihat asal kata Akhlak, yang mengandung arti perbuatan manusia karena itu objek yang dikaji dalam pembahasan akhlak adalah aspek tingkah laku manusia dari segi nilai baik atau buruk. Pengertian Akhlak Secara Istilah Berikut pendapat para ulama terkait Akhlak. a. Imam Al-Gazali. فالخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة، عنها تصدر الأفعال بسهولة ويسر من غير حاجة إلى فكر وروية Al‑khuluq adalah ungkapan kondisi jiwa yang terdalam, yang darinya melahirkan perilaku secara gampang dan mudah spontan, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[3] b. Muhammad Husain Abdullah. الأخلاق اصطلاحا هي الصفات التي أمر الله المسلم أن يتصف بها عند قيامه بأعماله Akhlak adalah sifat‑sifat yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada seorang muslim, agar ketika ia berbuat menggunakan sifat tersebut.[4] c. Lafadz khuluq dalam ayat QS Al-Qalam [68] 4 menurut Imam Al‑Mahally dan Asy‑Suyuthi adalah dîn agama, sehingga makna ayat tersebut adalah, “dan Sesungguhnya kamu benar‑benar memiliki agama / din / ajaran yang agung.”[5] d. Jadi Akhlak menurut al‑Ghazali, naluri yang bersifat fitrah mirip makna secara bahasa, menurut Imam Mufassir Akhlak adalah ajaran Islam ad‑dîn, syariat, menurut Husain Abdullah akhlak adalah sifat yang terpuji mirip makna urf. Ciri-ciri Perbuatan Akhlak 1. Tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya. Al Ghazali 2. Dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran spontan. Al Ghazali 3. Timbul dari diri orang yang mengerjakannya tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. 4. Dilakukan dengan ikhlas dan benar sesuai syari’at, karna akhlak dikatakan baik jika sesuai dengan syariat, sedangkan perangai yang buruk adalah yang tidak sesuai dengan syariat. Muhammad Husain Abdullah Akhlak Kepada Allah SWT Sumber untuk menentukan Akhlak dalam Islam, apakah termasuk akhlak yang baik mulia atau akhlak yang tercela, adalah al-Quran dan as Sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Terlebih lagi akhlak terhadap Allah SWT, tentunya standar baik dan buruknya adalah berasal dari aturan-Nya bukan akal atau adat manusia, sebab akan berbeda-beda ukuran/standarnya.[6] Jika kita perhatikan, akhlak terhadap Allah ini merupakan pondasi atau dasar dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada dimuka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia memiliki Akhlak al Karimah terhadap Allah, maka ini merupakan gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain. Titik tolak Akhlak kepada Allah SWT adalah pengakuan dan kesadaran bahwa Tiada Tuhan Melainkan Allah SWT dalam beribadah kepadaNya. [7] Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an. قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢ لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤ “1. Katakanlah "Dialah Allah, Yang Maha Esa 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." [QS. al-Ikhlash [112] 1–4] Dan pula dalam ayat yang lain. وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi beribadah kepada-Ku.” [QS. alDzariyat [51] 56] Pengertian Akhlak Kepada Allah SWT Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai Al Khalik Pencipta. Sehingga Akhlak kepada Allah dapat diartikan, “Segala sikap atau perbuatan manusia yang dilakukan tanpa dengan berfikir lagi spontan yang memang seharusnya ada pada diri manusia sebagai hamba kepada Allah SWT sebagai Al Khalik. Umat Islam diwajibkan berakhlak baik kepada Allah SWT dengan bertaqwa kepadaNya, Allah SWT yang telah menjadikan umat Islam dengan sebutan sebagai Umat Terbaik Khoiru Ummah. Akhlak kepada Allah SWT adalah contohnya dengan,[8] 1. Bertauhid kepadaNya QS. al-Ikhlash [112] 1–4; QS. alDzariyat [51] 56, 2. Menaati perintahNya QS. Ali Imran [3] 132, 3. Ikhlas dalam semua amal QS. al-Bayyinah [98] 5, 4. Tadlarru’ dan khusyu’ dalam beribadah QS. al-Fatihah [1] 6, 5. Berdoa dan penuh harapan pada Allah SWT. QS. al-Zumar [39] 53, 6. Berbaik sangka pada setiap ketentuan Allah QS. Ali Imran [3] 154, 7. Bertawakal setelah memiliki kemauan dan ketetapan hati QS. Ali Imran [3] 159, 8. Bersyukur QS. Ibrahim [14] 7, dan 9. Bertaubat serta istighfar bila berbuat kesalahan QS. al-Tahrim [66] 8. Alasan Seorang Muslim Harus Berakhlak Kepada Allah SWT Menurut Kahar Mashyur, ada 4 empat alasan manusia perlu berakhlak kepada Allah SWT, yakni[9] 1. Allah yang menciptakan manusia. Dia yang menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari tulang punggung dan tulang rusuk. “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?. Dia tercipta dari air yang terpancar. Yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada. [at-Thariq 5-7] 2. Allah-lah yang telah memberikan perlengkapan panca indera. Berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. “Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” [ an-Nahl 78] 3. Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia. Seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya. [ al-Jatsiyah 12-13] 4. Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan didaratan dan dilautan. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam, Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami beri mereka dari rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” [ al-Isra’ 70] Setiap muslim meyakini, bahwa Allah SWT adalah sumber segala sumber dalam kehidupannya. Allah adalah Pencipta dirinya, pencipta jagad raya dengan segala isinya, Allah SWT adalah pengatur alam semesta yang demikian luasnya. Allah adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam kehidupan manusia, dan lain sebagainya. Sehingga jika hal ini mengakar dalam diri setiap muslim, maka akan terealisasi dalam realita bahwa Allah lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak. Akhlak Kepada Manusia قال بعض البلغاء الحَسن الخُلُق من نفسه ِفي َراحة, َ و الناس منهُ ِفي َ سلامة, والسيئ الخلُق الناس منهُ ِفي بَلاء,و هو من نفسه ِفي َعناء “Berkata beberapa ahli Balaghah; bahwa akhlak yang baik adalah sikap yang memebuat diri yang bersangkutan tenang dan orang lain selamat atas perbuatan tersebut. Sementara akhlak yang buruk adalah perbuatan yang membuat manusia mendapat bala dan pelaku akhlak buruk itu sendiri sesungguhnya sedang sakit jiwa.” [Adab Dunia dan Agama, Al Mawardi][10] Pengertian Akhlak kepada sesama manusia berarti kita harus berbuat baik kepada sesama manusia tanpa memandang kepada siapa orang tersebut, sehingga kita mampu hidup dalam masyarakat yang aman dan tenteram. Dalam realitas keseharian kita, kadangkala kita pernah menjumpai seorang Muslim yang mungkin dari sisi ritualitas ibadahnya bagus, namun hal demikian sering tidak tercermin dalam perilaku atau akhlaknya. Shalatnya rajin, tetapi sering tak peduli dengan tetangganya yang miskin. Shaum sunnahnya rajin, namun wajahnya jarang menampakkan sikap ramah kepada sesama. Zikirnya rajin, tetapi tak mau bergaul dengan masyarakat umum. Demikian seterusnya. Tentu saja, Muslim demikian bukanlah Muslim yang ideal dan ber-akhlaq al-karimah apalagi menjaga muru’ah kehormatan.[11] Banyak sekali ruang lingkup Akhlak yang dikemukakan al Quran dan as Sunnah berkaitan dengan Akhlak terhadap sesama manusia. Sebagai contoh dari Al Qur’an. 1. Akhlak kepada Nabi ﷺ, sebab beliau adalah Rasul yang memperoleh wahyu dari Allah. Atas dasar itulah beliau berhak memperoleh penghormatan melebihi manusia lain. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus pahala amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” [49] 2 2. Akhlak kepada sesama pergaulan dimasyarakat, misal Larangan menyakiti hati walaupun diringi dengan sedekah. “Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan perasaan sipenerima. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” QS al-Baqarah[2] 263 Akhlak bertamu, bahwa akan perlunya privasi kekuasaan atau kebebasan pribadi. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat”. [24] 27 Akhlak dalam berbicara haruslah ucapan yang baik dan benar. “... serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia...” QS al-Baqarah[2] 83 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan-yang-benar”. 3. Akhlak kepada Orang tua, tidak durhaka kepada mereka walau hanya berkata “ah” menyakitkan hati. [QS. Al Isra 23-24] dan berbakti kepada mereka [QS. Lukman14] 4. Akhlak Al Karimah terhadap tetangga, kerabat dekat, anak-anak yatim, orang miskin, teman sejawat, dan hamba sahaya bahkan ibnu sabil musafir, yakni dengan berbuat baik kepada mereka. [QS. An Nisa 36] 5. Akhlak kepada anak, adalah dengan mendoakannya QS. Al-Furqan [25] 74, menafkahinya, meng-aqiqah-kan, memberi nama yang baik, menyusukan selama 2 tahun, meng-khitan, memberikan ilmu, berlaku adil, dan mengkawinkan jika sudah baligh. Dalam sejumlah hadits lainnya, Baginda Rasulullah ﷺ menyebut sejumlah keistimewaan Akhlak Mulia ini. Saat beliau ditanya tentang apa itu kebajikan al-birr, misalnya, beliau langsung menjawab, “Al-Birr husn alkhulq Kebajikan itu adalah akhlak mulia.” HR Muslim. Beliau bahkan bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada Hari Kiamat nanti selain akhlak mulia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berbuat keji dan berkata-kata keji.” HR at-Tirmidzi. Dalam kesempatan lain Baginda Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak mulia.” HR atTirmidzi. Keutamaan kedudukan orang yang berakhlak mulia juga disejajarkan dengan keutamaan kedudukan orang yang biasa memperbanyak ibadah shaum puasa dan sering menunaikan shalat malam. Baginda Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin-karena kebaikan akhlaknya-menyamai derajat orang yang biasa melakukan shaum dan menunaikan shalat malam.” HR Abu Dawud. Alasan Mengapa Sesama Manusia Harus Saling Berakhlak 1. Akhlak adalah bagian dari Syariat Islam Hukum Syara’ dan tidak akan mungkin dipisahkan dari bagian macam‑macam hukum syara’, seperti ibadah, muamalah dan lain sebagainya. Misalnya khusyu tidak akan nampak kecuali dalam shalat, sifat jujur dan amanah hanya akan muncul pada muamalah, jadi akhlak merupakan bagian dari hukum syariat, yakni perintah dan larangan Allah SWT yang akan nampak ketika melaksanakan amal perbuatan.[12] 2. Manusia merupakan makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain, dalam bermasyarakat kita perlu saling menghargai, misalnya cara bersikap kepada orang yang lebih tua maupun muda. Ini merupakan alasan mengapa akhlak sangat penting bagi sesama manusia, karena dengan kita berakhlak, maka kita akan dapat saling menghargai satu sama lain dan tercipta ketentraman. Akhlak kepada Alam Alam ialah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi beserta isinya, selain Allah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda mati. Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah QS. Al Baqarah[2] 30 yang diberi tugas dan kemampuan oleh Allah untuk mengelola bumi dan mengelola alam semesta ini, sudah seharusnya melestarikannya dengan baik tidak merusak alam/bumi.[13] Sehingga ada kewajiban manusia untuk berakhlak kepada alam sekitarnya. Sebagai contoh didalam Al Qur’an. Binatang melata dan burung-burung adalah seperti manusia yang menurut al-Qurtubi tidak boleh dianiaya Shihab, 1998 270 [QS. al-An’am 6 38][14] Baik di masa perang apalagi ketika damai akhlak Islam menganjurkan agar tidak ada pengrusakan binatang dan tumbuhan kecuali terpaksa dan sesuai dengan sunnatullah sehingga tidak keluar dari tujuan dan fungsi penciptaan QS. al-Hasyr [59] 5.[15] Kerusakan lingkungan hidup adalah akibat perbuatan manusia, dan oleh karena itu ia manusia harus bertanggung jawab di dunia dan di akhirat alRum [30] 41. Alam sebagai alat untuk tafakkur kepada Allah, merupakan akhlak juga sebab perbuatan ini menjauhkan manusia dari merusak alam. QS. Ali Imran [3] 190 Memanfaatkan alam beserta isinya, karena Allah ciptakan alam dan isinya ini untuk manusia QS. Al Baqarah [2] 22 dan 29. Alam yang masih lestari pasti dapat memberi hidup dan kemakmuran bagi manusia di bumi. Tetapi apabila alam sudah rusak maka kehidupan manusia menjadi sulit, rezeki sempit dan dapat membawa kepada kesengsaraan. Pelestarian alam ini wajib dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat, bangsa dan negara, sebab manusia hidup sangat bergantung pada alam sekitar. Cara melestarikan alam semesta Berakhlak dengan alam sekitarnya dapat dilakukan manusia dengan cara melestarikan alam sekitarnya sebagai berikut 1. Melarang Penebangan Pohon-Pohon Secara Liar; 2. Melarang Perburuan Binatang Secara Liar; 3. Melakukan Reboisasi; 4. Membuat Cagar Alam Dan Suaka Margasatwa; 5. Mengendalikan Erosi; 6. Menetapkan Tata Guna Lahan Yang Lebih Sesuai; 7. Memberikan Pengertian Yang Baik Tentang Lingkungan Kepada Seluruh Lapisan Masyarakat; 8. Memberikan Sanksi-Sanksi Tertentu Bagi Pelanggar-Pelanggarnya. DAFTAR PUSTAKA Al Qur’an Al Karim Al Hadrami. Salim bin Smeer. 2001 Terjemah Safinah An Najah. Husaini Bandung Husain Abdullah, Dr. Muhammad. 1990. Dirâsât fi al‑Fikr al‑Islâmiy, cet. I. Dâr al‑Bayâriq’ Amman Dr. Marzuki, Dosen PKn dan Hukum FIS UNY. File PDF BAB X KONSEP AKHLAK ISLAM. 30/03/2017 Hasan. H. Lutfi. 22 May 2016. Akhlak. Diakses di http//hizbut Nuraeni. Chusnul. Sabtu, 12 April 2014. Akhlak Kepada Alam Semesta. 3/29/2017 Wulaningsih. Diah. 25 November 2011. Akhlak Seorang Muslim Terhadap Allah SWT. 30/03/2017 [1] QS. Al Baqarah [2] 30 ; “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." [2] Dr. Yusuf Syukriy Farhat. Mu’jam at‑Tullâb, cet. I. Dar al‑Kutub al‑’Ilmiyyah – Beirut, 2000. hlm. 168 [3] Abu Hamid Al‑Ghazali, Ihyâ’ Ulûm ad‑Dîn, juz II. hlm. 253 CD Maktabah Asy‑Syamilah versi 2 [4] Dr. Muhammad Husain Abdullah, Dirâsât fi al‑Fikr al‑Islâmiy, cet. I. Dâr al‑Bayâriq’ – Amman, 1990, hlm. 52 [5] Imam Al‑Mahally dan As‑Suyuthi, Tafsîr Jalâlayn, juz. II. hlm. 273 Maktabah Asy‑ Syamilah Ishdar Ats‑Tsani. [6] Dr. Marzuki, Dosen PKn dan Hukum FIS UNY. BAB X KONSEP AKHLAK ISLAM. Hlm. 176 [7] Dr. Marzuki, op. cit. Hlm. 178; Sebagai tambahan mengenai kalimat Thoyyibah ini, Salim bin Smeer Al Hadrami dalam kitabnya Safinah An Najah, mengatakan “Wa ma’na Laa Ilaha Illa Allah laa ma’buuda bi haqqin fii al wujuudi illa Allah” Artinya Makna Laa Ilaha Illa Allah adalah tidak ada yang patut disembah secara haq didalam wujudnya, kecuali Allah. Sehingga ini menjadi titik tolak pondasi bagi semua, baik Akidah, Akhlak, Ibadah, Mu’amalah dan Uqubat. [8] Dr. Marzuki, op. cit. Hlm 178 [9] Kahar Masyhur, Membina Moral dan Akhlak Jakarta Kalam Mulia, 1985 diakses di [10] H. Lutfi Hasan. 22 May 2016. Akhlak. Diakses di http//hizbut [11] Ibnu Qayim al-Jauziah membagi sikap muru’ah menjadi tiga. Pertama muru’ah terhadap diri sendiri, yaitu mempraktikkan akhlak mulia dan menjauhi akhlak tercela kendati tidak dilihat oleh orang lain. Misalnya, orang yang tetap menutup auratnya saat ke luar rumah sekalipun jauh dari keramaian atau tidak ada orang yang melihat dia. Kedua muru’ah terhadap sesama manusia, yaitu senantiasa berakhlak luhur dan menjauhi akhlak tercela saat bergaul dengan sesama manusia. Ketiga muru’ah terhadap Allah SWT, yaitu merasa malu terhadap Allah SWT sehingga membuat seseorang senantiasa berupaya melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. [12] Dr. M Husain Abdullah, Dirâsât fi al‑Fikr al‑Islâmiy, cet. I. Dâr al‑Bayâriq’ – Amman, 1990, hlm. 53 [13] “..dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berbuat kerusakan. QS. Al Qashash[28] 77 [14] Dr. Marzuki, op. cit. Hlm 180
Aku Anak SalihPerilaku Terpuji Amanah, Santun dan Menghargai Teman Kompetensi Dasar Memahami makna perilaku amanah clalam kehidupan seharihari Mencontohkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari Memahami sikap santun dan menghargai teman, baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat sekitar Mencontohkan sikap santun dan menghargai teman, baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat sekitar Tujuan Pembelajaran Melalui pembelajaran jarak jauh peserta didik dapat 1. Menjelaskan pengertian amanah dengan benar 2. Menjelaskan contoh perilaku amanah dengan benar 3. Menampilkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari dengan benar 4. Menjelaskan pengertian santun dengan benar 5. Menjelaskan contoh perilaku santun di rumah, sekolah, dan di masyarakat sekitar 6. Menampilkan perilaku santun di rumah, sekolah, dan di masyarakat sekitar 7. Menjelaskan pengertian menghargai teman dengan benar 8. Menjelaskan contoh perilaku menghargai teman di rumah, sekolah, dan di masyarakat sekitar 9. Menampilkan perilaku menghargai teman di rumah, sekolah, dan di masyarakat sekitar Materi Pokok Amanah, santun, dan menghargai teman Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal 1. Salam dan Doa 2. Mari Tadarus 3. Mari kita lakukan protokol kesehatan Kegiatan IntiAmati tayangan berikut! Bagaimana menurut pendapatmu tentang tayangan diatas?Apa yang dimaksud amanah?Apa saja perilaku yang termasuk amanah?Bagaimana bersikap santun dan menghargai teman? Ayo pahami! A. Perilaku Amanah Pengertian Amanah Amanah adalah sikap jujur atau dapat di percaya. Amanah dapat diartikan dengan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah merupakan titipan. Amanah merupakan lawan dari khianat. Sikap amanah merupakan sesuatu yang dipercayakan untuk dilindungi, dijaga, dan dilaksanakan. Jadi Amanah adalah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang atau kepercayaan terhadap seseorang untuk dilaksanakan. Macam-macam Amanah 1. Amanah terhadap Allah Swt., yaitu dengan menjalani semua perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya. 2. Amanah terhadap sesama manusia, yaitu ketika di titipi pesan atau barang maka kita harus menyampaikan kepada yang berhak 3. Amanah terhadap diri sendiri, yaitu dengan menggunakan segenap anggota badan dan kemampuan demi menjaga kelangsungan hidup Contoh Perilaku Amanah Berikut ini beberapa contoh amanah dalam kehidupan sehari-hari 1. Menjaga titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula. Apabila kita dititipi sesuatu oleh orang lain, misalnya barang berharga, emas, rumah, atau barang-barang lainnya, maka kita harus menjaganya dengan baik. Pada saat barang titipan tersebut diambil oleh pemiliknya, kita harus mengembalikannya seperti semula. 2. Menjaga rahasia. Apabila kita dipercaya untuk menjaga rahasia, baik itu rahasia pribadi, rahasia keluarga, rahasia organisasi, atau rahasia negara, maka kita wajib menjaganya supaya tidak bocor kepada orang lain. 3. Tidak menyalahgunakan jabatan. Jabatan adalah amanah yang wajib dijaga. Apabila kita diberi jabatan apapun bentuknya, maka kita harus menjaga amanah tersebut. menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok termasuk perbuatan yang melanggar amanah. 4. Memelihara semua nikmat dari Allah Swt. Nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. berupa umur, kesehatan, harta benda, ilmu, dan sebagainya. Semua nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada umat manusia adalah amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Nabi Muhammad Saw memberi contoh saat berdagang ke Syam bersama pamannya. Dalam berdagang, beliau selalu bersikap amanah terpercaya. Barang dagangan yang dititipkan kepadanya dijaga dengan baik. Mengingat sikapnya itu, beliau mendapatkan gelar al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya. Sebagai umat Nabi Muhammad Saw., kita harus meneladani perilakunya, misalnya 1. rajin belajar; 2. menjaga nama baik orang tua kita; 3. mengerjakan tugas sekolah; 4. menjaga nama baik guru dan sekolah. 5. menjaga diri dengan baik 6. menjaga hak orang lain Manfaat Berperilaku Amanah Orang yang berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya ia telah berbuat baik kepada diri sendiri. Begitu juga sikap amanah memiliki dampak yang baik bagi diri sendiri. Di antara hikmah berperilaku amanah sebagai berikut 1. Dipercaya orang lain, 2. Mendapatkan simpati dari orang lain 3. Menjalani hidup akan berhasil dan dimudahkan oleh Allah Swt. Ayo simak tayangan berikut! B. Perilaku Santun Amati tayangan berikut!Apa pendapatmu tentang perilaku pada tayangan tersebut?Ayo baca materi berikut!Pengertian Santun Santun adalah berkata lemah lembut serta bertingkah laku halus dan baik. Perilaku santun seseorang akan terlihat dari ucapan dan tingkah lakunya. Ucapannya lemah-lembut, tingkah lakunya halus serta menjaga perasaan orang lain. Santun mencakup dua hal, yaitui santun dalam ucapan dan santun dalam perbuatan. Sopan santun menjadi sangat penting dalam pergaulan hidup sehari hari. Kita akan dihargai dan dihormati orang lain jika menunjukkan sikap sopan santun. Orang lain merasa nyaman dengan kehadiran kita. Sebaliknya, jika berperilaku tidak sopan, maka orang lain tak akan menghargai dan menghormati kita. Orang santun biasanya sabar, tenang, sopan, penuh rasa belas kasihan dan suka menolong. Sedangkan, menghargai berarti menghormati, mengindahkan, dan memandang penting kepada orang lain. Orang yang tidak menghargai berarti orang yang meremehkan atau tidak peduli terhadap orang lain. Perhatikan firman Allah berikut! “Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang al-Qur'an kepada hambaNya Muhammad untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sungguh, terhadap kamu Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang.” al-Hadid/ 57 9. Contoh perilaku Santun Contoh sikap santun yang harus kita lakukan saat di sekolah adalah 1. Menyapa guru saat bertemu 2. Mengucap dan memberi salam pada guru 3. Menghormati bapak dan ibu guru 4. Menggunakan seragam yang rapi dan sesuai aturan 5. Berkata lembut terhadap teman, guru maupun karyawan Contoh sikap santun yang harus kita lakukan saat di rumah adalah 1. Meminta izin kepada orang tuanya saat hendak bepergian keluar rumah 2. Menggunakan kata-kata yang baik dan menghindari penggunaan kata-kata kasar 3. Saling mengucapkan salam saat hendak bepergian 4. Saling berbagi apapun kepada sesama saudara 5. Membantu orang tua mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga Contoh sikap santun yang harus kita lakukan saat di masyarakat adalah 1. Mengikuti kegiatan kerja bakti pembersihan lingkungan 2. Saling berbagi dan saling membantu sesama tetangga 3. Saling menyapa dengan tetangga 4. Menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan Tidak meludah di sembarang tempat. Manfaat bersikap santun Adapun manfaat perilaku santun sebagai berikut ; 1. Dihargai dan di hormati orang lain 2. Rasa tenteram dan damai 3. Mendatangkan rasa bahagia 4. Dapat menjaga hubungan baik dengan orang yang ada di sekitar kita 5. Dipandang sebagai orang yang mempunyai perilaku baik C. Perilaku Menghargai Teman Ayo simak tayangan dibawah ini! Apakah memafkan teman termasuk cara menghargai teman? cara menghargai teman? Ayo pahami materi berikut!Pengertian Menghargai Teman Menghargai teman adalah sikap menghormati seorang dan memberi kesempatan kepada orang lain. Orang yang tidak menghargai berarti orang yang meremehkan atau tidak peduli terhadap orang lain. Contoh perilaku menghargai teman. Perilaku menghargai teman dapat diwujudkan dengan 1. Berteman tanpa pilih kasih. Bersahabat dan bermain dengan siapa saja, tidak memandang kedudukan orang tersebut. 2. Tidak mencela dengan perkataan yang buruk. 3. Rendah hati dan bisa menerima dengan hati yang tulus atas kerja temanmu. 4. Mengucapkan “terimakasih” kepada teman yang telah membantu. 5. Mengucapkan “minta maaf” kepada teman jika kita bersalah atau menyinggung perasaan dan sebagainya. 6. Tidak mengambil hak orang lain dan menguasainya dengan cara mencuri, merampas, atau berdusta. 7. Memberikan ucapan selamat, sanjungan dan pujian secara langsung kepada teman yang berprestasi. Ayo simak tayangan berikut! Kegiatan Penutup Mari membuat kesimpulan 1. Amanah adalah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang atau kepercayaan terhadap seseorang untuk dilaksanakan. 2. Contoh perilaku amanah Menjaga titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula, menjaga rahasia, tidak menyalahgunakan jabatan, memelihara semua nikmat dari Allah Swt. 4. Manfaat berperilaku amanah akan dipercaya orang lain, mendapatkan simpati dari orang lain, menjalani hidup akan berhasil dan dimudahkan oleh Allah Swt. 3. Santun adalah berkata lemah lembut serta bertingkah laku halus dan baik. 4. Contoh perilaku santun di sekolah menyapa guru saat bertemu dengan guru, mengucap dan memberi salam pada guru, menyayangi teman-teman, berkata lembut terhadap teman, guru maupun karyawan. 5. Contoh sikap santun di rumah adalah meminta izin kepada orang tuanya saat hendak bepergian keluar rumah, saling membantu mengerjakan pekerjaan rumah, menggunakan kata-kata yang baik dan menghindari penggunaan kata-kata kasar. 6. Contoh santun di masyarakat mengikuti kegiatan kerja bakti pembersihan lingkungan, saling berbagi dan saling membantu sesama tetangga, menjaga ketertiban lingkungan, tidak meludah di sembarang tempat. 7. Manfaat berperilaku santun Dihargai dan di hormati orang lain, akan merasa tenteram dan damai, mendatangkan rasa bahagia 8. Menghargai teman adalah sikap menghormati seorang dan memberi kesempatan kepada orang lain. 9. Contoh perilaku menghargai teman berteman tanpa pilih kasih. tidak mencela dengan perkataan yang buruk, mengucapkan “minta maaf” kepada teman jika kita bersalah atau menyinggung perasaan. Jangan lupa uji kemampuan kalian dengan menjawab beberapa pertanyaan. Demikian pembelajaran kali ini, kita ucap “Alhamdulillah” Penilaian Jawablah pertanyaan berikut! 1. Jelaskan pengertian Amanah! 2. Sebutkan 3 macam amanah! 3. Sebutkan 3 contoh perbuatan yang termasuk amanah! 4. Jelaskan manfaat bersikap amanah! 5. Apakah yang dimaksud santun? 6. Jelaskan 3 contoh santun di sekolah! 7. Sebutkan 3 contoh santun di masyarakat! 8. Jelaskan manfaat bersikap santun! 9. Jelaskan arti menghargai teman! 10. Sebutkan 3 contoh perbuatan yang termasuk menghargai teman!
JAKARTA - Guru Besar IPB Institut Pertanian Bogor Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc menjelaskan, lingkungan adalah bagian penting yang diperhatikan oleh Alquran maupun sunnah Rasulullah saw. Menurut Kiai Didin, sesungguhnya lingkungan ada dua macam. Ada lingkungan sosial dan lingkungan yang bersifat fisik. ''Lingkungan yang bersifat fisik sebagai contoh kita harus memelihara bagaimana air harus tetap jernih, tetap bersih. Tidak boleh kita sembarangan membuang kotoran dan sampah ke sungai yang mengalir,'' ungkapnya. Pada surat al-Baqarah ayat 204-205 diuraikan, ''Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah atas kebenaran isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling dari kamu, ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.'' Menurut Kiai Didin, ayat tersebut menyebutkan ciri-ciri orang munafik, yang suka membuat kerusakan lingkungan. Menghancurkan tanaman, mencabut tanaman. Akibatnya terasakan sekarang, timbulnya tanah longsor dan banjir yang tidak terkendali. Sedangkan lingkungan yang bukan bersifat fisik ialah lingkungan sosial, juga harus dijaga bersama. Alquran melarang umat untuk menyebarkan fitnah, isu dan mengadu domba. ''Itu semua bisa merusak keharmonisan lingkungan sosial,'' tegasnya. Maka itulah, dapat disimpulkan bahwa Islam sangat menghargai lingkungan, bukan sekadar menghargai, tapi juga memerintahkan umatnya untuk berbuat terbaik kepada lingkungannya, baik lingkungan bersifat fisik maupun yang bersifat sosial. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
Pengertian Adab Terhadap Lingkungan Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan makhluk lain untuk kelangsungan hidupnya. Manusia membutuhkan manusia lain, manusia membutuhkan tumbuhan dan manusia juga membutuhkan hewan. Begitu juga sebaliknya, semua yang ada di lingkungan juga membutuhkan manusia. Tumbuhan dan hewan membutuhkan manusia untuk kelangsungan hidupnya juga. Manusia di bumi ini adalah khalifah. Apa-apa yang ada di bumi ini diciptakan oleh Allah untuk manusia. Allah menciptakan tumbuhan dan hewan tidak lain untuk kemaslahatan manusia, manusia juga memerlukan makanan dari tumbuhan dan juga hewan-hewan yang ada di lingkungan. Maka tugas manusia lah yang harus menjaga dan melestarikan apa-apa yang ada di bumi ini dan lingkungan. Pengertian adab menurut bahasa ialah kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, akhlak. Menurut istilah adab ialah “suatu ibarat tentang pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah. Adab dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak. Adab terhadap lingkungan adalah tingkah laku makhluk hidup terhadap lingkungan sekitar, tingkah laku terhadap tumbuhan, hewan air dan apapun yang ada di sekitar kita. Lingkungan adalah gabungan atau perpaduan antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti bagaimana cara menggunakan lingkungan fisik tersebut. Lingkungan juga dapat diartikan menjadi segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Dalil Tentang Kewajiban Terhadap Lingkungan Firman Allah dalam Surat An-Nur ayat 45, menjelaskan bahwa Allah menciptakan berbagai jenis tumbuhan dan hewan dengan segala macam ragam. Lalu Allah menciptakan manusia. Artinya Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian yang lain berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tumbuhan tidak diciptakan oleh Allah hanya untuk kehidupan manusia saja. Namun tumbuhan diciptakan oleh Allah juga untuk hewan-hewan yang ada di alam ini. Dalam firmannya Taha 53 Artinya Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Semua yang ada di alam ini diciptakan oleh Allah agar dapat dimanfaatkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya oleh manusia. Allah berirman dalam QS. al-Baqarah 29 Artinya Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menciptakan langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. Dengan adanya beberapa irman yang sudah dijelaskan di atas, bahwa Allah sudah memerintahkan kepada umatnya yaitu manusia agar menjaga lingkungan. Manusia mempunyai kewajiban memelihara segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan sekitarnya selain memanfaatkan apa yang ada di lingkungan. Semua ini telah disediakan oleh Allah untuk manusia, maka dari itu Allah sangat murka terhadap manusia yang merusak lingkungan sekitar. Apabila larangan tersebut tetap dilanggar oleh manusia, sama saja manusia telah merusak hidupnya sendiri. Seperti contohnya merusak lingkungan dengan membuang sampah di sembarang tempat akan mengakibatkan bencana banjir. Penebangan hutan dengan sembarangan akan menyebabkan longsor. Kerusakan tersebut juga mengancam nyawa manusia, dan keberlangsungan kehidupan manusia. Dengan adanya bencana banjir, banyak manusia terserang penyakit hingga meninggalnya manusia tersebut, tidak hanya nyawa saja yang hilang bahkan harta benda dan rumah mereka pun juga melayang. Adab Pada Lingkungan a. Adab Lingkungan Tanpa kita sadari bahwa seluruh manusia yang ada di alam ini membutuhkan alam yang ada di sekitarnya untuk membantu manusia dalam hidupnya. Manusia bernafas juga membutuhkan udara yang bersih, manusia membutuhkan air yang bersih untuk hidupnya dan juga tanah. Udara, air dan tanah adalah sumber alam yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Lingkungan sehat adalah lingkungan yang diidamkan oleh semua makhluk hidup di dunia ini terutama manusia. Lingkungan sehat manusia pun sehat, maka manusia haruslah menjaga dengan baik. Adanya kejadian-kejadian alam yang ada di lingkungan seperti kebakaran hutan, kemarau yang panjang yang mengakibatkan kekurangan air bersih, itu semua karena manusia. Manusia kurang atau tidak mempunyai adab terhadap lingkungan di sekitarnya. Adanya krisis adab berawal dari diri setiap manusia. Karena adab itu lahir dari jiwa seseorang, bukan dari luar. Beberapa adab manusia terhadap lingkungan, adalah sebagai berikut b. Larangan merusak/mencemari lingkungan Artinya Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut tidak akan diterima dan harapan akan dikabulkan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. al-A’raf 56 c. Menjaga kebersihan lingkungan Artinya “…..Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” Al-Baqarah 222 d. Menganjurkan menghidupkan lahan mati Artinya Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkan ia menjadi sedekah baginya. HR. Muslim Maka tak aneh jika Nabi Muhammad saw memerintahkan untuk memaksimalkan tanah mati, untuk ditanami; Dalam hadis lain disebutkan “Barang siapa yang menghidupkan lahan mati, baginya pahala. Dan semua yang dimakan burung dan binatang menjadi sedekah baginya.” HR An-Nasai, Ibnu Hibban dan Ahmad. Kematian sebuah tanah akan terjadi kalau tanah itu diitinggalkan dan tidak ditanami. Tanah dikategorikan hidup apabila di dalamnya terdapat air dan pemukiman sebagai tempat tinggal. Usaha menghidupkan lahan mati, dikategorikan sebagai suatu keutamaan yang dianjurkan Islam dan berpahala, dan sebaliknya bagi siapa saja yang berusaha untuk merusak usaha seperti ini dengan cara menebang pohon akan dicelupkan kepalanya ke dalam neraka. e. Tidak ekploitatif terhadap lingkungan atau Hemat Suatu hari, Rasulullah melewati Sa’ad sedang berwudhu dan banyak menggunakan air. Beliau mengkritik, “Mengapa boros wahai Sa’ad?” Sa’ad menjawab, “Apakah ada pemborosan air dalam wudhu?” Rasul menjawab, “Ya, walaupun kamu berada di sungai yang mengalir.” HR Ibnu Majah dan Ahmad. Bila kita meneladani Rasulullah dan mengamalkan ajarannya, pastilah alam ini akan bersahabat dengan kita. Dari gambaran hadis di atas sangatlah jelas bahwa pemakaian sumber alam yang berlebihan merupakan sebuah tindakan yang dilarang oleh agama. Jika dalam hal wudhu saja Rasulullah menegur kita untuk tidak boros dalam penggunaan airnya, apalagi jika kita melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber alam yang kita miliki. Adab terhadap Hewan Hewan juga makhluk Allah. Hewan diciptakan oleh Allah untuk kelangsungan hidup manusia di dunia ini. Maka sebagai seorang muslim harus lah mempunyai adab terhadap hewan yang ada di lingkungan sebagai berikut ini Hewan juga membutuhkan makanan dan minuman, maka berikanlah hewan tersebut makanan dan minuman. Memberikan kasih sayang kepada hewan, baik hewan peliharaan maupun tidak. Seorang muslim yang akan menyembelih hewan, hendaknya mengunakan pisau yang sangat tajam. Sehingga hewan tersebut tidak merasa kesakitan. Janganlah menyakiti hewan dengan cara apapun. Karena hewan juga makhluk hidup yang bisa merasakan kesakitan. Boleh membunuh hewan yang mengganggu, seperti anjing buas, serigala, ular, kalajengking, tikus dan lain-lainnya, karena Nabi saw. telah bersabda, “Ada lima macam hewan fasik yang boleh dibunuh di waktu halal tidak ihram dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas dan rajawali” HR Muslim 1198. Juga ada hadis shahih yang membolehkan membunuh kalajengking dan mengutuknya. Hikmah adab terhadap lingkungan Melaksanakan amanah Allah swt sebagai khalifah di bumi untuk menjaga dan melestarikan apa yang telah diciptakan oleh Allah buat manusia. Meningkatkan keimanan kita terhadap Allah swt dan mensyukuri segala pemberian Allah swt yang ada Beragam makhluk hidup dengan segala jenis dan bentuknya merupakan bukti bahwa Allah maha kaya dan maha berkuasa atas alam semesta ini Gemar dengan melakukan hidup bersih dan tidak berlebihan dalam memanfaatkan serta menggunakan sumber alam yang ada.
lingkungan di sekitar kita adalah amanah allah yang harus